Login / Register ID | EN
This page has no official English version. It was translated automatically and may contain errors. Read the original in Indonesian →
Diabetes Pada Anak: Apa Bisa?
Kesehatan

Diabetes in Children: Is It Possible?

Pada awal tahun 2023, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memaparkan bahwa kasus diabetes pada anak meningkat 70 kali lipat sejak tahun 2010. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 1.645 anak pada 15 kota besar di Indonesia memiliki diabetes. Hal ini juga didukung oleh data dari DInas Kesehatan Surabaya bahwa ada peningkatan pada jumlah anak yang mengidap diabetes sebanyak 2,3% dengan jumlah 184 anak pada tahun 2022. Sedangkan pada awal tahun 2023, Dinas Kesehatan Surabaya sudah menemukan 4 kasus tambahan terkait anak dengan diabetes. 

Data-data di atas menunjukkan bahwa anak juga dapat terkena penyakit diabetes. Menurut SIloam Hospitals, diabetes adalah penyakit yang ada di dalam tubuh dimana terdapat kadar gula yang tinggi, namun tidak dapat diproses dengan baik oleh tubuh. Diabetes sendiri secara umum dibagi 2, yaitu diabetes tipe 1 yang merupakan gangguan autoimun, dimana antibodi tubuh menyerang tubuh itu sendiri. Untuk diabetes tipe 2, sensitivitas tubuh dalam mengidentifikasi adanya gula berlebih dalam tubuh menurun. 

Anak-anak yang menderita diabetes pada usia dini kebanyakan memiliki diabetes tipe 2. Hal ini dipengaruhi oleh pola asuh orangtua dalam memberikan pola makan terhadap anak. Dosen dari Departemen Biostatistik, Epidemiologi, Kesehatan Populasi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Lastdes Cristiany Friday Sihombing, S.Gz., MPH., melalui ugm.id, menyampaikan bahwa pola makan sehat sudah diterapkan sejak dini. Pada usia 6 bulan, anak sudah dikenalkan dengan makanan padat, termasuk memasukkan gula dan garam dengan jumlah yang wajar dan tidak berlebihan. Selain itu, anak juga diberi edukasi untuk tidak mengikuti tren kekinian terkait makanan atau jajanan yang memiliki kadar gula dan garam yang tinggi karena akan memiliki dampak ketagihan pada anak. Hal ini selaras dengan pendapat Diah Saminarsih, CEO Center for Indonesia’s Strategic Development Initiative (CISDI) melalui bbc.com yang mengatakan bahwa pola asuh dan pola makan rumah yang tidak sehat mempengaruhi keputusan anak dalam memilih makan, terutama makanan instan yang lebih mudah dijangkau dan praktis. Namun, perlu diketahui bahwa makanan-makanan tersebut memiliki jumlah kadar gula dan garam yang lebih tinggi dan tersembunyi. 

Tidak hanya dari pola makan saja, namun anak juga harus dibiasakan dengan pola aktivitas gerak yang rutin dimana membantu pertumbuhan dan metabolisme anak. Sejak Covid melanda dunia, disinilah diabetes pada anak-anak juga meningkat mengingat aktivitas hanya sebatas dalam ruangan. Data tersebut didukung oleh Indonesian Report Card On Physical Activity for Children & Adolescents 2022 dimana kurang dari 20% anak di Indonesia telah memenuhi kebutuhan jasmani.

Usaha pencegahan diabetes anak juga harus dibantu oleh pemerintah di Indonesia. Kementerian Kesehatan Indonesia menyampaikan bahwa yang dilakukan saat ini adalah mengedukasi orang tua secara masif dalam memahami informasi label nilai gizi pada makanan kemasan. World Health Organization (WHO) juga menyampaikan batasan konsumsi gula pada anak yang dapat menjadi acuan para orang tua. Untuk anak-anak dalam mengkonsumsi gula, jumlahnya adalah 6 sendok teh per hari. Adanya edukasi dan promosi secara besar-besaran oleh pemerintah adalah salah satu bentuk pencegahan diabetes pada anak. Hal ini dilakukan agar nantinya tidak terjadi masalah jangka panjang pada anak yang memiliki diabetes, seperti penyakit komplikasi yang melibatkan jantung dan ginjal dengan perawatan yang memakan biaya besar.

Translating this page for the first time…
This happens once. The page reloads automatically when it is ready.