Login / Daftar ID | EN
Pekerja Patuh Hanya Saat Diawasi: Tanda Budaya Keselamatan yang Lemah
Foto: Pexels
Industri

Pekerja Patuh Hanya Saat Diawasi: Tanda Budaya Keselamatan yang Lemah

Ada pemandangan yang akrab di banyak lokasi kerja: pengawas lewat, helm dan kacamata pelindung terpasang rapi. Pengawas berlalu, perlengkapan itu turun ke leher atau tergeletak di meja. Kalau keselamatan hanya terlihat saat ada yang memandang, yang Anda amati sebenarnya bukan keselamatan, melainkan reaksi terhadap pengamatan.

Yang diukur pengawasan, dan yang tidak

Pengawasan mengukur perilaku pada saat tertentu. Ia tidak mengukur alasan di balik perilaku itu. Panduan Health and Safety Executive (HSE), regulator keselamatan kerja Inggris, membedakan keduanya dengan tegas. Budaya keselamatan di sana didefinisikan sebagai hasil dari nilai, sikap, persepsi, kompetensi, dan pola perilaku individu maupun kelompok yang menentukan komitmen organisasi pada keselamatan. Perilaku pekerja hanyalah satu bagian darinya.

HSE juga menulis bahwa banyak perusahaan memakai istilah budaya keselamatan untuk soal kemauan pekerja mengikuti aturan, padahal yang lebih menentukan adalah budaya dan gaya manajemennya. Dokumen yang sama menyatakan bahwa budaya dapat berpengaruh sebesar sistem manajemen keselamatan terhadap hasil keselamatan.

Artinya, ketika pekerja baru aman saat diawasi, pertanyaan yang tepat bukan "siapa yang bandel", melainkan "kondisi apa yang membuat patuh hanya terjadi di depan pengawas".

Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas Pelatihan & Sertifikasi BNSP Pengawas K3 Migas.

Tanda-tanda yang bisa dipindai

HSE menyebut beberapa peringatan dini yang bisa diperiksa tanpa survei rumit:

  • pelanggaran prosedur yang terjadi secara luas dan rutin;
  • sistem manajemen keselamatan perusahaan sendiri tidak dijalankan;
  • keputusan manajemen yang konsisten memenangkan produksi atau biaya di atas keselamatan.

Poin ketiga sering terlewat. Kalau target produksi selalu menang di atas prosedur, pekerja belajar dari contoh itu, bukan dari poster.

Lima tingkat budaya keselamatan

Panduan pemerintah Inggris untuk sektor maritim (Maritime and Coastguard Agency) memaparkan lima tingkat budaya keselamatan menurut Hudson, dari yang terendah:

Tingkat Ciri utama
Patologis Keselamatan diabaikan kecuali ada ketakutan akan hukuman
Reaktif Tindakan baru muncul setelah kecelakaan
Kalkulatif Sistem dan audit ada, tetapi datanya tidak selalu dipakai dengan baik
Proaktif Kepemimpinan dan nilai mendorong perbaikan terus-menerus
Generatif Keselamatan menyatu dengan cara organisasi bekerja, kesalahan diperkirakan dan dipelajari

Pekerja yang patuh hanya saat diawasi paling dekat dengan tingkat patologis: aturan dihormati karena takut ketahuan. Panduan itu juga mencatat bahwa organisasi bisa turun kembali ke tingkat sebelumnya, sehingga budaya perlu dirawat terus.

Mengapa pengawasan lebih banyak bukan jawabannya

Menambah pengawas memang menambah mata. Namun panduan yang sama menegaskan bahwa budaya kepatuhan lebih baik daripada ketidakpatuhan, tetapi aturan hanya menetapkan standar minimum. Yang mendorong organisasi naik adalah budaya belajar, yang tumbuh dari pelaporan, dan budaya adil (just culture): kesalahan manusia dianggap tak terhindarkan sehingga prosesnya diperbaiki, sementara pelanggaran yang dilakukan dengan sengaja tetap dimintai pertanggungjawaban. Keduanya bersandar pada kepercayaan antara pekerja dan manajer.

White paper HSE bersama Health and Safety Laboratory tentang pengukuran iklim keselamatan menyinggung tema yang sama. Tema yang muncul di dalamnya antara lain keterlibatan pimpinan yang berkelanjutan, keadilan dalam konsekuensi perilaku tidak aman, prosedur yang bisa dipakai, serta sikap rekan sejawat. Dokumen itu menjelaskan bahwa iklim keselamatan lazimnya diukur lewat kuesioner tentang sikap dan persepsi, dan HSL menyediakan perangkat survei dengan 40 pernyataan yang dipetakan ke delapan faktor.

Pemeriksaan sederhana untuk lokasi kerja Anda

HSE menyebut empat aspek budaya efektif: komitmen manajemen, manajemen yang terlihat di lapangan, komunikasi dua arah yang baik, dan partisipasi aktif karyawan. Anda bisa memakainya sebagai daftar tanya:

  1. Apakah pimpinan terlihat di lapangan, bukan hanya di rapat?
  2. Apakah pekerja bisa menyampaikan kekhawatiran tanpa takut dirugikan?
  3. Apakah prosedur yang ada masuk akal dan bisa dijalankan pada kondisi kerja nyata?
  4. Apakah laporan nyaris celaka ditindaklanjuti, atau hilang begitu saja?

Jawaban "tidak" pada salah satunya lebih informatif daripada hasil patroli hari itu.

Catatan

Topik pengawas yang belum membentuk budaya keselamatan juga dibahas dalam klip pembelajaran di halaman video ini, kalau Anda lebih nyaman melihat penjelasannya langsung. Artikel ini merujuk pada sumber regulator dan pemerintah di bawah, bukan pada rekaman tersebut, dan tidak membahas kewajiban hukum keselamatan kerja di Indonesia.

Sumber

  • Health and Safety Executive (Inggris), "Safety culture" (Human factors briefing note no. 4), hse.gov.uk/humanfactors/assets/docs/common4.pdf, mengutip ACSNI Human Factors Study Group, Organising for safety (1993).
  • Sugden, Roberts, dan Preston, "Measuring the Safety Climate in Organisations", HSE/Health and Safety Laboratory, books.hse.gov.uk/gempdf/Measuring_the_Safety_Climate_in_Organisations_HSE_white_paper.pdf.
  • Maritime and Coastguard Agency, "Leading for safety: 6. Creating a culture of safety", gov.uk/guidance/leading-for-safety/6-creating-a-culture-of-safety.