Login / Daftar ID | EN
Warna Bukan Satu-satunya Penanda: Aturan dan Angka yang Perlu Dicek
Foto: Lukas Blazek / Pexels
Desain IT

Warna Bukan Satu-satunya Penanda: Aturan dan Angka yang Perlu Dicek

Grafik penjualan dengan satu garis merah dan satu garis hijau. Kolom status berisi titik merah, kuning, dan hijau. Kolom formulir yang wajib diisi ditandai dengan warna merah. Ketiganya terbaca sempurna di layar Anda, dan ketiganya bisa gagal total di layar orang lain. Anda tidak akan pernah menerima laporannya, sebab pembaca yang gagal membacanya biasanya menyalahkan dirinya sendiri.

Berapa banyak pembacanya

Prevalensi buta warna di dunia berkisar 2 sampai 5 persen. Untuk Indonesia, angka yang bisa dirujuk datang dari Urban Eye Health Study di Jakarta Timur yang diterbitkan Ophthalmologica Indonesiana pada 2021. Dari 1.475 responden, prevalensi buta warna kongenital tercatat 3,79 persen. Pada kelompok anak usia 6 sampai 16 tahun angkanya 5,97 persen, pada kelompok dewasa usia 41 sampai 77 tahun 3,26 persen.

Dua rincian dari penelitian itu berguna untuk siapa pun yang menyusun tampilan visual. Pertama, sebarannya condong ke laki-laki: di antara yang terdeteksi buta warna, 76,9 persen pada kelompok anak dan 91,1 persen pada kelompok dewasa berjenis kelamin laki-laki. Kedua, dari 25 anak yang terdeteksi, hanya 3 orang tua yang sebelumnya sudah tahu. Sebagian besar pembaca yang kesulitan membaca grafik Anda tidak menyadari kondisinya sendiri, apalagi melaporkannya. Untuk diri sendiri, tes buta warna memberi indikasi awal dalam beberapa menit. Hasilnya bukan diagnosis, dan pemeriksaan mata tetap urusan dokter.

Satu catatan lagi yang sering terlewat: mayoritasnya bukan kasus berat. Dari anak yang buta warna kongenital dalam penelitian itu, 69,3 persen tergolong parsial. Mereka tetap melihat warna, hanya saja sebagian pasangan warna menyatu.

Aturannya, lengkap dengan angkanya

Acuan yang dipakai hampir semua audit aksesibilitas adalah WCAG dari W3C. Tiga kriterianya relevan di sini, dan ketiganya punya ambang yang tegas.

1.4.1 Use of Color, Level A. Warna tidak boleh menjadi satu-satunya cara visual untuk menyampaikan informasi, menunjukkan aksi, meminta respons, atau membedakan elemen. Ini Level A, tingkat paling dasar, bukan penyempurnaan.

1.4.3 Contrast Minimum, Level AA. Teks memerlukan rasio kontras minimal 4,5:1 terhadap latarnya. Teks berukuran besar boleh 3:1.

Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas Power Point Design Basic to Advanced.

1.4.11 Non-text Contrast, Level AA. Komponen antarmuka dan objek grafis yang membawa informasi memerlukan minimal 3:1 terhadap warna di sebelahnya. Kriteria inilah yang mengikat garis grafik, ikon status, dan batas kotak isian.

Perbedaannya penting. Kriteria 1.4.1 berbicara tentang makna, dua kriteria berikutnya tentang beda terang. Sebuah desain bisa lolos yang satu dan gugur di yang lain.

Ambang 4,5:1 dan 3:1 itu angka yang bisa dihitung, bukan soal selera. Rasionya diturunkan dari luminansi relatif kedua warna, jadi dua warna yang terlihat cukup berbeda pun bisa gugur. Kalau ingin memeriksanya cepat, pemeriksa kontras warna menghitung rasio sepasang warna dan menyebutkan kriteria mana yang terpenuhi.

Sejauh mana ini mengikat di Indonesia

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengatur akses informasi pada Pasal 122 sampai 124: kewajiban memfasilitasi komunikasi, menjamin akses atas informasi, serta menyediakan informasi dalam bentuk yang dapat dijangkau dan dipahami. Subjek kewajibannya disebut eksplisit, yaitu Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Undang-undang itu tidak memasang kewajiban setara pada situs atau materi perusahaan swasta.

Jadi bagi sebagian besar pembaca, ini bukan soal kepatuhan hukum melainkan soal mutu pekerjaan. Dan mutunya masih rendah bahkan di pihak yang memang terikat. Penelitian dalam jurnal Prologia terbitan 2023 memeriksa 34 situs pemerintah provinsi dengan acuan WCAG 2.1 dan menemukan 2.088 pelanggaran aksesibilitas, rata-rata 61 pelanggaran per situs. Jenis pelanggaran nomor satu adalah kontras warna yang tidak mencukupi, sebanyak 724 kejadian yang tersebar di 30 dari 34 situs.

Empat perbaikan yang paling sering menuntaskan masalah

  1. Tambahkan penanda kedua. Ikon centang dan silang, pola garis pada area grafik, label langsung di ujung garis, atau ketebalan garis yang berbeda.
  2. Naikkan beda terangnya, bukan hanya beda warnanya. Merah dan hijau dengan kecerahan setara akan menyatu; merah gelap lawan hijau terang tetap terbedakan.
  3. Hindari pasangan merah dan hijau untuk status berhasil dan gagal. Biru lawan oranye jauh lebih aman dan tetap terbaca oleh ketiga ragam penglihatan warna.
  4. Jangan menandai kolom wajib hanya dengan warna merah. Sertakan teks atau tanda yang tetap terlihat saat warnanya hilang.

Uji cepatnya cukup satu pertanyaan: kalau warnanya dibuang sama sekali, apakah informasinya masih sampai? Untuk melihat jawabannya tanpa perlu menebak, simulator buta warna untuk desain mengubah gambar Anda menjadi tampilan tiga ragam penglihatan warna, dan seluruh pemrosesannya berjalan di peramban sendiri. Alat itu tidak memeriksa mata siapa pun, ia hanya mengubah gambarnya.

Sumber

  • Nusanti S, Sidik M. Prevalensi dan Karakteristik Buta Warna pada Populasi Urban di Jakarta. Ophthalmologica Indonesiana 2021;47(2):79-85.
  • Amaliah SM, Hafiar H, Dewi R. Analisis Aksesibilitas Website Pemerintah Provinsi Indonesia Sebagai Implementasi Corporate Digital Responsibility terhadap E-Government. Prologia Vol. 7 No. 2, Oktober 2023, hal. 473-486.
  • Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, Pasal 122, 123, dan 124. peraturan.bpk.go.id
  • W3C Web Accessibility Initiative. Understanding Success Criterion 1.4.1 Use of Color, 1.4.3 Contrast (Minimum), dan 1.4.11 Non-text Contrast, WCAG 2.2. w3.org/WAI