Dua hari setelah acara selesai, tanyakan ke seorang peserta, "Gimana acaranya kemarin?" Ia tidak akan memutar ulang delapan jam rundown. Jawabannya biasanya tersusun dari dua potong ingatan: momen yang paling kuat terasa, dan cara acara itu berakhir.
Psikologi menyebut pola ini peak-end rule, aturan puncak dan akhir. Untuk penyelenggara acara, aturan ini menggeser pertanyaan "berapa banyak sesi menarik yang kita punya" menjadi dua pertanyaan yang lebih tajam: di mana puncaknya, dan bagaimana acara ini ditutup.
Percobaan air 14 °C
Pada 1993, Daniel Kahneman dan tiga rekannya meminta 32 mahasiswa mencelupkan tangan ke air dingin, dua kali.
- Percobaan pendek: satu tangan, air 14 °C, 60 detik.
- Percobaan panjang: tangan lainnya, 60 detik yang sama pada 14 °C, lalu ditahan 30 detik lagi sementara airnya dihangatkan pelan, rata-rata dari 14,1 °C ke 15,2 °C. Masih sakit, hanya sedikit berkurang.
Lalu mereka diminta memilih satu untuk diulang. 22 dari 32 orang (69 persen) memilih yang panjang, padahal isinya sakit yang sama persis ditambah setengah menit. Pada ulangan percobaan tanpa alat pengukur rasa sakit, 24 dari 37 orang memilih hal yang sama.
Ingatan ternyata tidak menjumlahkan detik. Ia menimbang rasa di titik terburuk dan rasa di detik terakhir.
Bukan cuma di laboratorium
Pola yang sama terukur di ruang tindakan rumah sakit. Uji acak terhadap 682 pasien kolonoskopi (Redelmeier, Katz, dan Kahneman, 2003) memberi separuh pasien tambahan waktu singkat di akhir prosedur, dengan rasa yang lebih ringan. Hasilnya:
- momen akhir dinilai lebih ringan: 1,7 lawan 2,5 pada skala 10;
- seluruh prosedur diingat kurang tidak enak: 4,4 lawan 4,9;
- pasien kelompok ini sedikit lebih sering kembali untuk kolonoskopi ulang (rasio odds 1,41, median pemantauan 5,3 tahun).
Prosedurnya lebih lama, kenangannya lebih ringan. Dan kenangan itulah yang menentukan apakah orang mau datang lagi.
Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas Sekolah Event Organizer.
Seberapa kuat, dan di mana batasnya
Satu percobaan bisa kebetulan. Meta-analisis Alaybek dan rekan (2022) menggabungkan 174 ukuran efek, dan gambarannya lebih utuh:
| Temuan | Sumber | Artinya untuk acara |
|---|---|---|
| Puncak dan akhir berpengaruh besar pada penilaian keseluruhan (r = 0,581) | Alaybek dkk., 2022 | Dua momen itu layak dirancang, bukan dibiarkan terjadi |
| Rata-rata seluruh pengalaman berpengaruh sebanding | Alaybek dkk., 2022 | Acara yang datar dari awal tidak tertolong satu momen meriah |
| Pengaruh durasi nyaris nol | Alaybek dkk., 2022 | Menambah jam tidak menambah kesan |
| Momen pembuka lebih lemah daripada puncak dan akhir | Alaybek dkk., 2022 | Jangan habiskan seluruh kejutan di pembukaan |
| Liburan rata-rata 7 hari: aturan ini bukan peramal yang menonjol | Kemp dkk., 2008 | Pada acara beberapa hari, hari-hari biasa ikut dihitung |
| Konferensi: urutan presentasi tidak membuat beda bermakna, puncak di akhir konferensi paling kuat pengaruhnya pada loyalitas | Godovykh dan Hahm, 2020 | Urutan pembicara bisa mengikuti kebutuhan teknis, tenaga dipusatkan ke penutup |
Menerjemahkannya ke rundown
Tentukan puncaknya dengan sengaja. Tulis di rundown jam berapa puncak itu terjadi dan siapa penanggung jawabnya. Setiap acara pasti punya satu momen paling kuat. Kalau tidak dirancang, momen itu tetap terjadi, dan belum tentu menyenangkan.
Ingat bahwa puncak bisa negatif. Pada percobaan air dingin, puncaknya adalah titik terburuk. Di acara, titik itu bisa berupa mikrofon mati di sesi utama atau vendor makanan yang telat. Rencana cadangan karena itu bukan urusan teknis semata, ia ikut menjaga ingatan peserta. Cara menyusunnya ada di tulisan soal pemicu dan pengambil keputusan dalam rencana kontingensi acara.
Rancang akhir sama seriusnya dengan pembukaan. Penelitian di atas tidak mengukur antrean parkir atau pembagian sertifikat. Tapi kalau ingatan menimbang momen terakhir, ada baiknya bertanya: terakhir menurut siapa? Bagi panitia, acara selesai saat MC menutup. Bagi peserta, mungkin baru selesai saat mereka keluar dari gedung.
Jangan memperpanjang acara supaya terasa lebih bernilai. Durasi nyaris tidak dihitung. Sesi tambahan yang melelahkan di ujung malah bisa menggeser akhir ke titik yang lebih buruk.
Kalau lebih enak mendengar penjelasannya langsung, ada klip soal kenapa acara butuh wow effect.
Sumber
- Kahneman, D., Fredrickson, B. L., Schreiber, C. A., dan Redelmeier, D. A. (1993). When More Pain Is Preferred to Less: Adding a Better End. Psychological Science, 4(6), 401-405.
- Redelmeier, D. A., Katz, J., dan Kahneman, D. (2003). Memories of colonoscopy: a randomized trial. Pain, 104(1-2), 187-194.
- Alaybek, B., Dalal, R. S., dan rekan (2022). All's well that ends (and peaks) well? A meta-analysis of the peak-end rule and duration neglect. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 170, 104149.
- Kemp, S., Burt, C. D. B., dan Furneaux, L. (2008). A test of the peak-end rule with extended autobiographical events. Memory & Cognition, 36, 132-138.
- Godovykh, M., dan Hahm, J. J. (2020). Does the sequence of presentations matter for academic conferences? An application of the peak-end rule in event management. Journal of Convention & Event Tourism, 21(3), 201-224.