Hasil pencarian di mesin pencari akademik terlihat seperti daftar yang sudah lolos saringan. Dokumentasi resminya sendiri tidak pernah menjanjikan itu, dan isinya justru menjelaskan kebalikannya.
Dua syarat isi, nol syarat mutu
Pedoman inklusi Google Scholar hanya memuat dua kriteria isi: dokumennya berupa artikel ilmiah, dan abstrak lengkapnya bisa dibaca gratis tanpa login, tanpa memasang perangkat lunak, dan tanpa menutup iklan sisipan lebih dulu. Tidak ada satu pun kriteria tentang reviu sejawat, reputasi penerbit, atau mutu metode.
Daftar jenis dokumen yang diterima menegaskan hal itu. Selain artikel jurnal, makalah konferensi, dan laporan teknis, pedoman tersebut secara eksplisit menyebut draf, disertasi, pracetak, pascacetak, dan abstrak. Draf dan pracetak memang belum melewati reviu sejawat. Itu cakupan yang disengaja, bukan kebocoran sistem.
Sisanya urusan teknis: berkas HTML atau PDF yang teksnya bisa dicari, ukuran maksimal 5 MB, satu artikel satu URL, dan halamannya terjangkau dari beranda lewat paling banyak sepuluh tautan HTML sederhana. Metadata minimumnya cuma tiga, yaitu judul, nama lengkap penulis pertama, dan tahun terbit. Ada satu angka lagi yang jarang disadari: pembaruan data artikel yang sudah terindeks umumnya baru terlihat setelah 6 sampai 9 bulan, jadi keterangan yang Anda baca hari ini bisa jadi potret lama.
Menyaring seribu hasil satu per satu jelas tidak masuk akal. Yang masuk akal adalah memulai dari daftar yang penyaringannya sudah dikerjakan lembaga lain.
Daftar yang memang menyaring, beserta angkanya
Untuk jurnal Indonesia, rujukannya SINTA. Per 6 September 2026, laman jurnal SINTA memuat 16.774 jurnal dari 2.019 penerbit, masing-masing dengan label peringkat akreditasi serta penanda terindeks Scopus dan Garuda bila ada. Peringkatnya berjenjang dari 1 sampai 6, dan surat keputusan hasil akreditasi memang diterbitkan terpisah untuk peringkat 1 dan 2 dengan peringkat 3 sampai 6. Cari nama jurnalnya di sana sebelum mengutip, jangan berhenti pada lencana yang dipasang di situs jurnalnya sendiri.
Untuk jurnal akses terbuka lintas negara, rujukannya DOAJ. Kriteria dasarnya berangka dan bisa Anda periksa satu per satu: minimal 5 artikel riset per tahun, jurnal baru wajib punya riwayat terbit lebih dari satu tahun atau minimal 10 artikel akses terbuka, setiap artikel dinilai minimal 2 reviewer independen, dan proporsi artikel yang salah satu penulisnya adalah editor atau anggota dewan editor tidak boleh melampaui 25 persen pada dua terbitan terakhir. Keputusan penerimaan umumnya keluar dalam 6 bulan, dan jurnal yang berhenti memenuhi kriteria dikeluarkan kembali.
Akreditasi bukan status permanen
Bagian ini yang paling sering terlewat. Dalam pemberitahuan hasil akreditasi jurnal ilmiah Periode 2 Tahun 2025, LLDikti Wilayah II menegaskan bahwa pengelola jurnal terakreditasi wajib menjaga mutu artikel dan mutu tata kelola, dan bila terjadi penurunan mutu, peringkat akreditasi dapat diturunkan atau dicabut. Akreditasi ulang baru bisa diajukan setelah jurnal menerbitkan 4 nomor terbitan terbaru sejak nomor terakhir yang dinilai.
Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk Artikel Jurnal Ilmiah.
Konsekuensinya, lencana peringkat di kop sebuah jurnal tidak menjawab pertanyaan yang benar. Yang perlu Anda ketahui adalah peringkat jurnal pada saat artikel itu terbit, sekaligus statusnya hari ini.
Aturan mainnya baru berganti Agustus 2026
Pada 11 Agustus 2026, ARJUNA mengumumkan Keputusan Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Nomor 374/DST/D.D1/HM.01.01/2026 tentang Petunjuk Teknis Akreditasi Jurnal Ilmiah, sebagai pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 9 Tahun 2026 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah. Keputusan itu mencabut dan menyatakan tidak berlaku Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Nomor 134/E/KPT/2021 yang selama ini dipakai sebagai pedoman akreditasi.
Dampaknya praktis. Panduan, materi pelatihan, dan tulisan yang masih menyebut pedoman 134/E/KPT/2021 sebagai aturan berjalan sudah kedaluwarsa. Periksa nomor aturan yang dirujuk sebelum Anda memakai instrumen penilaiannya.
Enam langkah sebelum mengutip
- Salin nama jurnalnya, cari di laman jurnal SINTA, catat peringkat dan tanggal Anda memeriksanya.
- Untuk jurnal terbitan luar negeri, cek di DOAJ. Kalau tidak ada di sana, cari tahu alasannya.
- Buka halaman proses reviu di situs jurnalnya. Kalau prosesnya tidak dijelaskan, berhenti di situ.
- Periksa dewan editor: harus ada nama beserta afiliasi, bukan nama saja.
- Periksa biaya penulis. Semua biaya wajib tertulis, termasuk biaya penarikan naskah.
- Cocokkan peringkat akreditasi dengan tanggal terbit artikelnya, bukan dengan hari ini.
Pemeriksaan sumber seperti ini melengkapi pemeriksaan naskah, bukan menggantikannya. Skor kemiripan yang rendah, misalnya, bukan bukti sebuah naskah bebas plagiat.
Topik ini dibahas juga di kelas Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk Artikel Jurnal Ilmiah bersama Rony Sandra Yofa Zebua. Kalau lebih enak melihat penjelasannya langsung, ada klipnya di Kenapa Jangan Andalkan Google Scholar untuk Riset Ilmiah.
Sumber
- Inclusion Guidelines for Webmasters, Google Scholar
- Laman Jurnal SINTA, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
- Keputusan Dirjen Sains dan Teknologi Nomor 374/DST/D.D1/HM.01.01/2026 tentang Petunjuk Teknis Akreditasi Jurnal Ilmiah, ARJUNA
- Pemberitahuan Hasil Akreditasi Baru Jurnal Ilmiah Periode 2 Tahun 2025 Peringkat 1 dan 2, LLDikti Wilayah II
- Guide to Applying versi 2.9, Directory of Open Access Journals