Login / Daftar ID | EN
Anggaran Marketing: Berapa Persen dari Omzet yang Wajar?
Foto: Pexels
Marketing

Anggaran Marketing: Berapa Persen dari Omzet yang Wajar?

Pertanyaan "berapa persen omzet untuk marketing" hampir selalu dijawab dengan satu angka yang terdengar pasti. Kenyataannya, angka itu berasal dari survei dengan sampel tertentu, dan tidak semuanya cocok untuk usaha Anda. Berikut patokan yang bisa dirujuk, berikut batasnya.

Patokan dari survei: sekitar 7 sampai 8 persen

Gartner menyurvei 401 CMO dan pemimpin pemasaran di Amerika Utara, Inggris, dan Eropa pada Januari sampai Maret 2026. Hasilnya, anggaran marketing rata-rata 7,8% dari pendapatan perusahaan, naik tipis dari 7,7% pada survei 2025. Gartner sendiri menyebut anggarannya "effectively flat". Pada survei yang sama, 56% responden mengatakan anggarannya tidak cukup untuk menjalankan strategi 2026.

The CMO Survey (September 2024, 260 responden) memberi angka yang mirip, yaitu 7,7% dari pendapatan. Angkanya sempat 10,1% pada edisi Spring 2024, jadi satu titik waktu saja tidak cukup untuk dijadikan patokan.

Rata-rata itu menyembunyikan perbedaan jenis bisnis

The CMO Survey juga memecah angkanya per sektor:

Sektor Persen dari anggaran perusahaan Persen dari pendapatan
B2B produk 8,7% 6,1%
B2B jasa 10,0% 6,2%
B2C produk 12,2% 10,2%
B2C jasa 9,6% 10,4%

Pola yang terbaca: bisnis yang menjual ke konsumen akhir (B2C) menghabiskan sekitar 10% dari pendapatan, sedangkan B2B sekitar 6%. Artinya jenis pelanggan Anda ikut menentukan wajar atau tidaknya sebuah persentase.

Kenapa angka ini jangan dipakai mentah-mentah

Sampel Gartner didominasi perusahaan dengan pendapatan tahunan di atas 1 miliar dolar AS. Usaha kecil dan menengah di Indonesia punya struktur biaya yang berbeda: skalanya lebih kecil dan sering bergantung pada satu atau dua kanal. Karena itu, angka 7,8% adalah titik awal untuk berdiskusi, bukan target.

Otoritas usaha kecil Amerika Serikat (SBA) juga berhati-hati. Dalam artikelnya tentang anggaran pemasaran, SBA menulis bahwa tidak ada jawaban baku untuk besarnya anggaran marketing, lalu hanya mengutip patokan dari sumber lain.

Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas Making Your First Marketing Strategy For Your Business, For The Company.

Cara memakainya: hitung dari tahun lalu, lalu uji

Pola yang umum di perusahaan adalah menetapkan persentase dari pendapatan tahun lalu. Contoh hitungannya, dengan angka rekaan:

  • Pendapatan tahun lalu Rp12 miliar, anggaran marketing 8%: Rp960 juta.
  • Target tahun ini naik ke Rp15 miliar. Bila persentasenya dijaga 8%, anggaran menjadi Rp1,2 miliar, atau bertambah Rp240 juta.

Metode ini sederhana, tetapi punya kelemahan: anggaran mengikuti omzet yang sudah lewat, bukan tujuan yang ingin dicapai. Karena itu angka persentase sebaiknya diuji dengan tiga pertanyaan:

  1. Target apa yang dikejar tahun ini (pelanggan baru, penjualan ulang, atau pasar baru)?
  2. Kegiatan apa yang diperlukan untuk mencapainya, dan berapa biaya masing-masing?
  3. Apakah total biaya itu masih masuk akal bila dibandingkan dengan persentase patokan?

Kalau hasilnya jauh di atas patokan, tinjau ulang targetnya atau pilih kanal yang lebih murah. Kalau jauh di bawah, perirsa apakah ada kegiatan penting yang belum dihitung.

Kalau lebih enak melihat penjelasannya langsung, ada klipnya di taalenta.id/video/mks-berapa-budget-marketing-yang-ideal-untuk-bisnis.

Sumber