Login / Daftar ID | EN
AI di Fungsi Keuangan: Batas Otomasi dan Kendali Manusia
Foto: Pexels
Akuntansi AI

AI di Fungsi Keuangan: Batas Otomasi dan Kendali Manusia

Selama bertahun-tahun, pekerjaan di bagian keuangan identik dengan lembur akhir bulan. Rekonsiliasi bank, mencocokkan invoice, menyusun jurnal, sampai merapikan laporan sebelum tutup buku. Sekarang sebagian beban itu mulai bergeser ke mesin. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan masuk ke fungsi keuangan, melainkan bagian mana yang sebaiknya diserahkan dan bagian mana yang tetap harus dipegang manusia.

Data terbaru menunjukkan pergeseran ini bukan sekadar wacana. Mengutip laporan Stanford AI Index 2025, adopsi AI di dunia bisnis global naik ke 78 persen organisasi, dari sebelumnya hanya 55 persen. Di sektor keuangan dampaknya cukup terukur. Sebuah studi terhadap 500 perusahaan yang memakai AI dalam proses piutang mencatat kenaikan produktivitas sampai 82 persen dan efisiensi operasional hingga 60 persen.

Yang Paling Cepat Diotomasi

Kalau melihat pola adopsi, area pertama yang tersentuh AI biasanya pekerjaan berulang dan berbasis aturan. Accounts payable, rekonsiliasi bank, pencatatan invoice, sampai pengelolaan expense. Model bahasa generatif juga sudah dipakai untuk membaca ratusan baris data, menyusun draf narasi laporan, dan menandai transaksi yang terlihat janggal sebelum diperiksa lebih jauh.

Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas Frontier AI for Finance Leaders: Otomasi Reporting, Review Dokumen & Kontrol Pembayaran Lintas Negara.

Yang menarik, otomasi di sini bukan soal menggantikan akuntan, tapi memangkas waktu yang selama ini habis untuk tugas administratif. Ketika input data dan pencocokan angka beres lebih cepat, ada ruang lebih untuk analisis yang strategis. Bukan lagi soal siapa yang paling teliti mengetik ulang angka, tapi siapa yang paling tajam membacanya.

Di Mana Manusia Tetap Pegang Kendali

Di titik inilah banyak orang salah paham. Kemampuan AI membaca data dengan cepat tidak sama dengan kemampuan menilai. Laporan keuangan tunduk pada standar akuntansi, konteks bisnis, dan tanggung jawab hukum yang tidak bisa didelegasikan ke algoritma. Sebuah angka yang terlihat benar menurut mesin belum tentu tepat secara substansi.

KPMG dalam laporan Global AI in Finance 2026 mencatat 95 persen pemimpin keuangan berencana memakai AI generatif dalam pelaporan keuangan dalam tiga tahun ke depan. Namun di saat yang sama, sekitar sepertiga organisasi justru menambah pengawasan manusia atau human in the loop sebagai respons langsung atas risiko output AI. Semakin besar peran AI, semakin penting skeptisisme profesional untuk mengecek hasilnya.

Literatur akademis di Indonesia sampai pada kesimpulan senada. Riset tentang AI dalam akuntansi menekankan bahwa kualitas dan tata kelola data adalah faktor penentu apakah AI benar-benar meningkatkan mutu laporan, bukan sekadar mempercepatnya. Regulasi akuntansi yang belum sepenuhnya siap mengakomodasi output berbasis AI juga menjadi catatan yang tidak bisa diabaikan.

Tantangannya Bukan Cuma Teknologi

Menariknya, hambatan terbesar sering bukan pada alatnya. Dalam Deloitte Indonesia CFO Forum 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan, "Hambatan terbesar bukan teknologi, tetapi leadership dan budaya organisasi. Banyak inisiatif AI berhenti di tahap uji coba tanpa memberikan dampak nyata."

Ia menyebut tiga tantangan yang berulang: jebakan proyek percontohan yang tidak pernah naik skala, fondasi data yang belum bersih dan terintegrasi, serta kesiapan manusia. Soal yang terakhir, Nezar menegaskan pentingnya pendekatan human in the loop. Menurutnya, nilai sejati AI justru muncul ketika kapasitas manusia ikut tumbuh, bukan disingkirkan dari proses.

Untuk profesional keuangan, pesannya cukup jelas. AI paling berguna ketika dipakai sebagai asisten yang mempercepat pekerjaan rutin, sementara pertimbangan akhir, interpretasi konteks, dan pertanggungjawaban tetap ada di tangan manusia. Kemampuan yang perlu diasah bukan lagi sekadar menginput angka, melainkan membaca hasil kerja mesin secara kritis dan tahu kapan tidak boleh percaya begitu saja.

Sumber

  • Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Adopsi AI Tekan Biaya Hingga 40 Persen, Fungsi Keuangan Perusahaan Berubah Cepat (15 April 2026). portal.komdigi.go.id
  • KPMG, Global AI in Finance Report 2026. kpmg.com
  • Jesya, STIE Al-Washliyah Sibolga, Artificial Intelligence (AI) dalam Akuntansi: Peluang dan Tantangan untuk Profesi Akuntan (2025). stiealwashliyahsibolga.ac.id
  • Fiskusnews, Transformasi, Bukan Kepunahan: Masa Depan Profesi Akuntan di Era Kecerdasan Buatan. fiskusnews.com