Para pemilik bisnis baru di Indonesia sering memulai pemasaran dengan cara yang sama: aktif di media sosial, membuat konten harian, memasang iklan, kadang ikut bazar atau pop-up. Aktivitas terlihat sibuk, tapi keputusan apa yang membenarkan aktivitas tersebut jarang ditanyakan. Data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat ada lebih dari 64 juta UMKM di Indonesia, dan banyak di antaranya menghadapi tantangan yang serupa: kesulitan menarik pelanggan secara konsisten sementara pesaing terus bertambah.
Pola yang sering muncul bukan soal kurang effort. Yang kurang biasanya adalah disiplin menyusun strategi marketing sebelum eksekusi. Berikut tiga kesalahan paling umum yang membuat upaya marketing bisnis baru terasa berputar di tempat.
1. Mengira Strategi Marketing Sama dengan Kampanye atau Konten
Strategi adalah keputusan tentang siapa pelanggan yang dituju, posisi apa yang ingin dimiliki di pikiran mereka, dan tawaran spesifik yang membuat bisnis layak dipilih. Kampanye dan konten adalah eksekusi dari strategi tersebut. Ketika urutannya terbalik (eksekusi dulu, strategi belakangan), bisnis jadi sibuk memproduksi konten yang tidak terhubung dengan tujuan jangka panjang. Marketing Myopia, istilah klasik Theodore Levitt di Harvard Business Review, persis menggambarkan kondisi ini: terlalu fokus pada produk dan aktivitas, kurang pada apa yang sebenarnya dibutuhkan pasar.
2. Tidak Pernah Memetakan Pasar dengan Serius
Sebelum strategi marketing dibuat, ada pekerjaan yang sering dilewati: memahami pasar lewat data. SWOT yang asal-asalan, segmentasi yang ditebak, dan persona pelanggan yang dibuat berdasarkan asumsi sendiri adalah pola umum. Padahal Survei Konsumen Bank Indonesia rutin menerbitkan data ekspektasi dan perilaku konsumen yang bisa jadi titik awal pemetaan. Tanpa data yang grounded, target market cuma jadi label, bukan keputusan yang membatasi pilihan dan memfokuskan upaya.
3. Eksekusi yang Tidak Sejajar dengan Perencanaan Bisnis
Strategi marketing bukan dokumen terpisah dari rencana bisnis. Marketing menentukan bagaimana produk sampai ke pasar, sementara rencana bisnis menentukan kapasitas serta margin yang membuat itu bisa dijaga. Ketika keduanya disusun terpisah, masalah klasik muncul: kampanye sukses menarik leads tapi operasional belum siap melayani, atau produk dirilis tapi belum ada strategi distribusi yang konsisten. Bisnis yang strateginya tertata membuat dua dokumen ini saling merujuk sejak awal.
Penutup
Tiga pola di atas saling terkait. Tanpa strategi yang dibangun dengan disiplin, eksekusi marketing jadi rangkaian aktivitas tanpa kompas, sementara rencana bisnis berjalan di jalur paralel yang bisa berbenturan dengan kenyataan pasar. Bagi pemilik bisnis dan profesional yang ingin menyusun strategi marketing pertamanya secara terstruktur, Kelas Making Your First Marketing Strategy di Taalenta membahas pondasi konsep marketing strategy, elemen yang dibutuhkan dalam perencanaan, dan cara menyelaraskannya dengan rencana bisnis dalam tiga sesi intensif.
Referensi
- Kementerian Koperasi dan UKM RI – Profil UMKM Indonesia → kemenkopukm.go.id
- Bank Indonesia – Survei Konsumen → bi.go.id
- Theodore Levitt, Harvard Business Review – Marketing Myopia → hbr.org