Banyak tim mutu berhenti pada satu kalimat: 80 persen masalah datang dari 20 persen penyebab. Sebagai gambaran kasar kalimat itu berguna. Sebagai aturan, ia menyesatkan. Angka 80 dan 20 tidak pernah menjadi ambang yang harus dikejar, dan orang yang memberi nama prinsip ini justru pernah menyatakan bahwa nama itu keliru.
Nama Pareto dipasang oleh Juran, lalu dikoreksinya sendiri
Vilfredo Pareto (1848 sampai 1923) adalah ekonom Italia yang meneliti ketimpangan distribusi kekayaan dan menyusun model matematis untuk menggambarkannya. Yang mengangkat pengamatan itu menjadi prinsip berlaku umum adalah Joseph M. Juran, pada awal 1950-an, saat ia menyiapkan naskah Quality Control Handbook edisi pertama. Juran butuh nama pendek, lalu memakai nama Pareto.
Pada 1974 Juran menerbitkan tulisan berjudul The Non-Pareto Principle; Mea Culpa dan mengakui ia memasangkan nama yang salah. Karya Pareto berada di ranah ekonomi, dan modelnya tidak dimaksudkan untuk dipakai di bidang lain. Kurva kumulatif yang sampai sekarang menempel pada diagram Pareto pun bukan buatan Pareto, melainkan bentuk yang dikembangkan M. O. Lorenz pada 1904 sampai 1905.
Juran juga mengubah istilahnya sendiri, dari vital few and trivial many menjadi vital few and useful many, supaya sisa kategori yang kecil tidak dianggap tidak bernilai sama sekali.
Konsekuensi praktisnya satu kalimat: jangan memaksa data Anda mendarat di angka 80 dan 20. Yang penting distribusinya timpang, bukan timpangnya sebesar berapa.
Yang menentukan adalah kolom kumulatif, bukan angka 80
Diagram Pareto yang layak dipakai punya tiga unsur: kontributor yang diurutkan dari sumbangan terbesar, besar sumbangan tiap kontributor dalam angka, dan persen kumulatif terhadap total.
Unsur ketiga itu yang paling sering hilang, padahal di situlah keputusannya diambil. Persentase tiap kategori dihitung dengan membagi jumlah kejadian kategori itu dengan total kejadian, lalu dikalikan 100. Persen kumulatif adalah penjumlahan berurutan dari atas ke bawah.
Contoh terdokumentasi dari arsip Juran: sebuah tim memeriksa formulir pesanan berisi 18 item isian dan mencatat frekuensi kesalahan selama satu pekan. Empat item teratas menyumbang 29, 25, 21, dan 11 persen kesalahan. Dijumlahkan berurutan, keempatnya mencapai 86 persen dari seluruh kesalahan. Empat dari 18, bukan 20 persen persis, dan bukan 80 persen persis. Angka yang membuat keputusan itu masuk akal adalah 86 tadi, bukan slogan 80/20.
Kalau tidak ada patahan yang jelas
Kadang batangnya nyaris sama tinggi dan garis kumulatifnya naik landai tanpa titik patah. Juran menyebut kondisi ini Awkward Zone. Ini bukan tanda prinsipnya tidak berlaku, melainkan tanda dasar pengelompokannya belum tepat.
Yang perlu dilakukan adalah mengganti cara mengklasifikasi datanya, lalu menyusun ulang diagramnya. Beberapa dasar pengelompokan yang biasanya membuahkan hasil: jenis kesalahan, waktu kejadian menurut jam, hari, atau bulan, urutan langkah proses, jenis produk atau layanan, tempat pekerjaan dilakukan, dan karakteristik kelompok yang mengerjakannya.
Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas QA/QC Operation: Mengintegrasikan Kualitas ke dalam Setiap Proses.
Dua jebakan yang sering lolos
Pertama, batang berlabel lain-lain. Menggabungkan sisa kategori memang merapikan tampilan, tetapi menyembunyikan kenyataan bahwa sumbangan masing-masing kategori itu terlalu kecil untuk digarap satu per satu. Kalau batang itu ikut diurutkan seolah sebuah kategori, urutannya menjadi salah.
Kedua, menghitung jumlah kejadian padahal yang dipertaruhkan biaya. Cacat murah yang muncul 300 kali dan cacat mahal yang muncul 30 kali akan menempatkan yang murah di posisi teratas, padahal perbaikan yang menghemat uang ada di sebelahnya. Diagram Pareto boleh disusun di atas nilai biaya, bukan hanya frekuensi. Juran mencontohkan pabrik transmisi mobil yang menyusun Pareto dari data Cost of Poor Quality untuk memilih kategori biaya yang digarap lebih dulu.
Pareto menunjuk arah, bukan sebab
Diagram Pareto adalah satu dari tujuh alat dasar pengendalian mutu yang diperkenalkan Kaoru Ishikawa pada 1968, bersama check sheet, diagram sebab akibat, histogram, peta kendali, diagram tebar, dan stratifikasi. Ia memberi tahu ke mana Anda harus melihat, bukan mengapa masalahnya terjadi, dan ia hanya sebaik data yang mengisinya. Karena itu ia lazim dipasangkan dengan diagram sebab akibat atau analisis akar masalah pada langkah berikutnya.
Prinsip 80/20 di lini produksi juga dibahas Muhammad Husni Mubarok di kelas QA/QC Operation. Kalau lebih enak melihat penjelasannya langsung, ada klipnya di halaman video.
Sumber
- The Non-Pareto Principle; Mea Culpa, J. M. Juran (1974), arsip Juran Institute
- Pareto Principle (80/20 Rule) and Pareto Analysis Guide, Juran Institute
- Mengenal 7 QC Tools: Alat Utama dalam Pengendalian Kualitas, PQM Consultants
- QC Seven Tools (Tujuh Alat Pengendalian Kualitas), IPQI
- Diagram Pareto: Pengertian, Fungsi, Cara Membuat, Kampus Kwik Kian Gie