Login / Daftar ID | EN
Berapa Jam Baterai Cadangan Perlu Bertahan, dan dari Mana Angkanya
Foto: Pexels
Hukum Industri

Berapa Jam Baterai Cadangan Perlu Bertahan, dan dari Mana Angkanya

Setiap perhitungan baterai cadangan dimulai dari satu angka yang justru paling jarang dimiliki orang: berapa jam sistem itu harus bertahan. Daya tiap perangkat bisa dibaca di label. Jumlah jamnya biasanya ditebak. Padahal tebakan itu berlipat langsung menjadi biaya, karena kapasitas baterai tumbuh sebanding dengan durasi yang diminta.

Angka jamnya sebenarnya bukan urusan selera. Ada standar resminya, dan ada realisasinya, dan keduanya berbeda jauh.

Standar resminya satu jam per bulan

Peraturan Menteri ESDM Nomor 27 Tahun 2017, yang telah diubah dengan Permen ESDM Nomor 18 Tahun 2019 dan Permen ESDM Nomor 2 Tahun 2025, mengatur Tingkat Mutu Pelayanan tenaga listrik. Salah satu indikatornya adalah Lama Gangguan, dengan satuan jam per bulan per konsumen.

Pasal 6A ayat (1) menetapkan besaran untuk indikator Lama Gangguan sebesar satu jam per bulan. Menteri dapat menetapkan besaran lain berdasarkan kondisi geografis atau kondisi jaringan yang ada. Kalau realisasinya di atas besaran tersebut, konsumen berhak memperoleh kompensasi, dan besarannya bertingkat menurut seberapa jauh selisihnya:

Selisih di atas standar Kompensasi dari biaya beban atau rekening minimum
sampai dengan 2 jam 50%
lebih dari 2 sampai 4 jam 75%
lebih dari 4 sampai 8 jam 100%
lebih dari 8 sampai 16 jam 200%
lebih dari 16 sampai 40 jam 300%
lebih dari 40 jam 500%

Kompensasi itu diperhitungkan pada tagihan listrik atau pembelian token bulan berikutnya, bukan dibayarkan terpisah.

Tabel di atas layak dibaca sebagai informasi rancangan, bukan sekadar hak konsumen. Regulatornya sendiri menyiapkan kelas kompensasi untuk gangguan yang lebih dari 40 jam di atas standar. Artinya pembuat aturan memperhitungkan bahwa padam selama itu bisa terjadi. Baterai yang diukur untuk satu jam diukur untuk standarnya, bukan untuk hari terburuknya.

Realisasi nasionalnya beberapa kali lipat standar

Indikator yang lazim dipakai untuk melihat gambaran besar adalah SAIDI, rata-rata durasi gangguan per pelanggan per tahun. Anggota Dewan Energi Nasional Muhammad Kholid Syeirazi menyebut rata-rata SAIDI nasional naik dari 5,34 jam per pelanggan per tahun pada 2024 menjadi 8,48 jam pada 2025, dengan sorotan pada realisasi penambahan jaringan transmisi yang rata-ratanya hanya 42,3 persen terhadap target RUPTL selama lima tahun terakhir.

Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas Hybrid PLTS Engineering & Simulation: Desain Sistem, Integrasi Energi, dan Analisis Kelayakan Proyek.

Perlu dicatat, SAIDI adalah rata-rata nasional. Ia mencampur penyulang perkotaan yang jarang terganggu dengan jaringan ujung yang sering. Untuk keputusan pembelian, rata-rata nasional terlalu kasar.

Angka yang benar-benar milik lokasi Anda

Pasal 3 ayat (1) mewajibkan PLN mengumumkan besaran Tingkat Mutu Pelayanan beserta realisasinya di masing-masing unit pelayanan, di tempat yang mudah diketahui konsumen, setiap awal triwulan. Di situlah angka Lama Gangguan untuk unit layanan yang membawahi alamat Anda bisa dilihat. Itu dasar yang jauh lebih dekat dengan kenyataan daripada angka nasional.

Padam yang tidak diganti justru yang perlu diantisipasi

Pasal 7 membebaskan PLN dari kewajiban kompensasi untuk indikator Lama Gangguan dan jumlah gangguan bila padamnya diperlukan untuk pemeliharaan, perluasan, atau rehabilitasi instalasi, bila gangguan bukan karena kelalaian PLN, bila ada keadaan yang berpotensi membahayakan keselamatan umum, atau untuk kepentingan penyidikan. Untuk pekerjaan pemeliharaan, konsumen harus diberi tahu paling lambat 24 jam sebelumnya. Pasal 8 menambahkan pengecualian untuk sebab kahar seperti banjir, gempa bumi, kebakaran, dan kerusuhan.

Perhatikan pola pengecualiannya. Padam terjadwal dan padam akibat bencana adalah dua jenis yang paling mungkin berlangsung lama, dan keduanya tidak menghasilkan kompensasi. Kalau baterai dibeli demi ketenangan, dua skenario itulah lawan yang sebenarnya, bukan padam satu jam yang standarnya sudah dijamin.

Menetapkan dua angka, bukan satu

Cara yang lebih jujur adalah memisahkan dua skenario. Pertama, padam pendek beberapa jam dengan beban wajar: penerangan, router, kulkas, pengisi daya. Kedua, padam panjang seharian dengan daftar perangkat yang jauh lebih pendek. Skenario kedua sering kali tidak menuntut baterai lebih besar, melainkan menuntut kesediaan mematikan lebih banyak hal.

Setelah daftar perangkat dan jumlah jamnya ditetapkan, sisanya tinggal aritmetika, termasuk potongan akibat batas pengosongan dan susut inverter. Bagian itu bisa diserahkan ke alat hitung ukuran baterai cadangan.

Sumber

  1. Permen ESDM Nomor 27 Tahun 2017 tentang Tingkat Mutu Pelayanan dan Biaya yang Terkait dengan Penyaluran Tenaga Listrik oleh PT PLN (Persero), JDIH Kementerian ESDM
  2. Permen ESDM Nomor 18 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permen ESDM Nomor 27 Tahun 2017, JDIH Kementerian ESDM
  3. Permen ESDM Nomor 2 Tahun 2025 tentang Perubahan Kedua atas Permen ESDM Nomor 27 Tahun 2017, JDIH Kementerian ESDM
  4. Pengawasan Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) Semakin Ketat, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM
  5. Kementerian ESDM dan DEN Minta PLN Tingkatkan Keandalan Sistem Listrik Sumatra, Kontan, 24 Mei 2026