Login / Daftar ID | EN
30 Persen Terakhir: Kenapa Aplikasi Buatan AI Sering Mentok Sebelum Benar-Benar Jadi
IT AI

30 Persen Terakhir: Kenapa Aplikasi Buatan AI Sering Mentok Sebelum Benar-Benar Jadi

Membuat tampilan aplikasi kini bisa dalam hitungan menit. Anda cukup menjelaskan yang diinginkan, dan AI menuliskan kodenya. Hasilnya muncul di layar, terlihat rapi, dan terasa seperti sihir. Namun ada jarak besar antara demo yang jalan di browser Anda dan aplikasi yang benar-benar bisa dipakai orang lain.

Jarak itu punya nama. Addy Osmani, engineer di tim Google Chrome, menyebutnya “masalah 70 persen”. AI membawa Anda ke sekitar 70 persen solusi dengan cepat, lalu 30 persen sisanya berubah menjadi perjuangan. Setiap perbaikan seolah memunculkan bug baru, dan Anda terjebak dalam lingkaran memperbaiki satu hal sambil merusak hal lain. Untuk sebagian proyek angkanya bahkan bergeser ke 80 persen, tetapi intinya sama: bagian awal terasa mudah, bagian akhir yang menentukan.

Apa Isi 30 Persen Terakhir Itu?

Bagian yang tersisa justru bukan soal mengetik kode lebih banyak. Ia soal hal-hal yang tidak kelihatan di sebuah demo: menghubungkan database sungguhan supaya data benar-benar tersimpan, bukan sekadar contoh; membangun sistem login dan hak akses yang benar; menambal bug yang muncul beruntun; memeriksa keamanan; dan akhirnya men-deploy aplikasi supaya bisa diakses lewat sebuah alamat, bukan hanya berjalan di localhost komputer Anda.

Di sinilah non-developer paling sering menyerah. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena tidak tahu apa yang sebenarnya rusak, mana yang belum aman, dan mana yang belum tersambung. Tanpa peta, tumpukan kode yang tadinya rapi berubah menjadi misteri.

Kenapa Alur Kerja Lebih Penting daripada Sekadar Mengobrol dengan AI

Kunci menuntaskan 30 persen terakhir bukan prompt yang lebih pintar, melainkan disiplin. Alih-alih meminta AI membangun seluruh aplikasi sekaligus, praktisi memecah pekerjaan: mengubah ide menjadi dokumen kebutuhan singkat atau PRD, membaginya menjadi fitur-fitur kecil, membangun satu fitur setiap kali, lalu mengujinya di browser sebelum lanjut. Mereka membaca setiap perubahan yang ditulis AI, bukan menerima secara buta, dan menyimpan titik aman supaya bisa kembali kalau ada yang rusak.

Pola sederhana inilah yang membedakan proyek yang benar-benar selesai dari yang mangkrak di tengah jalan.

Dua Agen, Kekuatan yang Berbeda

Alat untuk pekerjaan ini juga sudah matang. Codex CLI dari OpenAI, agen coding yang berjalan di terminal, dirilis pada April 2025 dan kini dipakai sekitar empat juta orang setiap minggu. Claude Code dari Anthropic dikenal kuat menalar keseluruhan proyek dan mengambil keputusan lintas berkas. Keduanya bisa saling melengkapi: satu piawai menggerakkan terminal dan menulis kode dengan cepat, satunya menjaga gambaran besar tetap masuk akal. Ditambah alat seperti Context7 untuk membantu menelusuri bug, seorang non-developer tidak perlu hafal isi dalamnya, cukup tahu cara mengarahkannya.

Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas Buat Website dan Aplikasi Sendiri Tanpa Coding dengan Claude Code dan Codex.

Tujuannya Bukan Menjadi Programmer

Poin dari semua ini bukan mengubah Anda menjadi software engineer. Tujuannya lebih membumi: mendapatkan satu aplikasi yang benar-benar jalan untuk kebutuhan Anda sendiri, entah pencatat keuangan, alat kerja internal, atau prototipe produk, tanpa harus menunggu antrean tim developer. Nilai terbesarnya tidak terletak di 70 persen pertama yang mudah, tetapi pada kemampuan menuntaskan 30 persen terakhir sampai aplikasi itu benar-benar bisa dipakai.

Taalenta membuka kelas praktik “Buat Website dan Aplikasi Sendiri Tanpa Coding dengan Claude Code dan Codex”, tempat Anda membangun satu aplikasi utuh dari perencanaan sampai deployment dalam dua sesi, dengan hasil akhir yang benar-benar berjalan.