Bagi banyak guru di Indonesia, pekerjaan tidak berhenti saat bel pulang berbunyi. Setelah mengajar, masih ada tumpukan lembar jawaban yang harus diperiksa, catatan perkembangan siswa yang harus diisi, dan rencana pembelajaran untuk pekan depan. Melalui Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025, beban kerja guru ditetapkan 37 jam 30 menit per minggu dengan tatap muka minimal 24 jam. Angka itu belum menghitung waktu tak terlihat yang habis untuk urusan administrasi di rumah.
Beban administrasi guru bukan sekadar keluhan personal, melainkan isu yang cukup besar untuk direspons kebijakan. Pemerintah menyederhanakan sistem pengelolaan kinerja sejak awal 2025 agar guru tidak dipersulit oleh tugas administratif. Di saat yang sama, penyesuaian menuju kurikulum pembelajaran mendalam untuk tahun ajaran 2025/2026 menuntut rancangan asesmen dan strategi belajar yang lebih variatif, termasuk hadirnya mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial.
Di titik inilah AI seperti Claude bisa membantu. Bukan untuk menggantikan penilaian guru, tetapi untuk memangkas pekerjaan yang berulang. Kuncinya bukan sekadar meminta AI membuat soal, melainkan membangun alur kerja yang bisa dipakai kembali setiap pekan.
Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas Claude & AI Tools untuk Pengajar.
Tiga simpul kerja yang bisa dibantu AI
Umpan balik. Memberi komentar personal untuk tiga puluh siswa nyaris mustahil dilakukan dengan kualitas merata. Guru dapat menyusun kriteria penilaian sekali, lalu meminta AI menyiapkan draf umpan balik per siswa berdasarkan kriteria itu. Guru tetap membaca, mengoreksi, dan menyetujui. Yang berubah bukan siapa yang menilai, melainkan berapa lama waktu untuk sampai ke tahap tinggal mengedit.
Diferensiasi. Satu kelas berisi siswa dengan kecepatan belajar berbeda. Dari satu lembar kerja inti, AI dapat membantu menurunkan versi yang lebih sederhana dan versi pengayaan, sehingga guru punya bahan untuk kelompok yang berbeda tanpa menulis ulang dari nol.
Konsistensi. Rubrik, kisi-kisi, dan instruksi tugas yang seragam memudahkan siswa memahami ekspektasi. AI membantu menjaga format tetap konsisten antar topik dan antar pekan, sesuatu yang melelahkan jika dikerjakan manual.
Menjaga guru tetap di kursi kemudi
Manfaat ini hanya bertahan jika guru memegang kendali. AI bisa keliru, bisa terlalu umum, dan tidak mengenal konteks kelas sebaik gurunya. Karena itu praktik yang sehat selalu menempatkan guru sebagai pemeriksa akhir: AI menyiapkan draf, guru yang memutuskan. Data pribadi siswa juga sebaiknya tidak dimasukkan mentah-mentah ke alat mana pun.
Yang membedakan guru yang terbantu AI dari yang kewalahan bukanlah seberapa canggih alatnya, melainkan apakah ia punya alur kerja yang jelas: apa yang dikerjakan manusia, apa yang didelegasikan, dan di mana titik pemeriksaannya. Ketika alur itu terbentuk, jam yang tadinya habis untuk pekerjaan administratif bisa kembali ke hal yang paling penting, yaitu mengajar dan mendampingi siswa.
Sumber
- Kemendikdasmen, "Permendikdasmen 11/2025 dan 13/2025, Dasar Sinkronisasi Kurikulum dan Beban Kerja Guru", kemendikdasmen.go.id
- Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru
- "Struktur Kurikulum Pembelajaran Mendalam dan Daftar Mata Pelajaran Terbaru Tahun Ajaran 2025/2026"