Login / Daftar ID | EN
Menyikapi Kecerdasan Buatan dalam Ranah Akademik
AI

Menyikapi Kecerdasan Buatan dalam Ranah Akademik

Saat ini, manusia sudah hidup beriringan bersama kecerdasan buatan dan masih terus beradaptasi terhadap kehadirannya. Salah satu aspek kehidupan manusia yang sangat terpengaruh dengan adanya artificial intelligence (AI) adalah bidang pendidikan. Di perguruan tinggi, AI seperti ChatGPT sangat berdampak terhadap kehidupan akademisi hingga mahasiswa.

Lantas, apakah dampak ChatGPT sebagai peluang atau tantangan?

Layanan ChatGPT memudahkan mahasiswa dan akademisi untuk memperoleh informasi yang menunjang belajar dan mengajar. Ia akan menjawab sesuai dengan pertanyaan yang diberikan oleh pengguna. Tidak hanya itu, ChatGPT dapat berperan sebagai asisten dalam membantu pencarian jurnal ilmiah, riset proposal, penulisan karya ilmiah, hingga kerangka yang membentuk di dalamnya, seperti metodologi penelitian hingga kajian pustaka. Di sisi lain, tantangan yang diberikan oleh ChatGPT ini dapat memudahkan mahasiswa dan akademisi untuk melakukan plagiarisme secara masif, dan menurunkan sifat analitis dan kritis. 

Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas AI & Chat GPT untuk Inovasi Kerja Akademik dan Perkantoran.

Sehingga, peluang dan tantangan yang dihadapkan harus disikapi dengan cara beradaptasi. Mahasiswa dan akademisi harus siap untuk belajar lebih dengan mengidentifikasi kebenaran dari jawaban-jawaban yang diberikan oleh ChatGPT. Meskipun kemudahan informasi memang diberikan oleh AI ini, namun ChatGPT tidak luput dari kesalahan dalam informasi yang diberikan, seperti jawaban yang kaku dan kurang akurat. Seperti yang dikatakan Danrivanto Budhijanto, seorang pakar Hukum Siber Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, di hukumonline.com, AI itu hanya menghasilkan informasi dan bukan pengetahuan dan pemahaman. Maka, mahasiswa dan akademisi tetap harus menelaah lebih jauh dengan menggunakan referensi lainnya yang lebih banyak dan dipercaya.

Tentunya, peluang dan tantangan tidak hanya disikapi oleh mahasiswa dan akademisi, namun juga universitas yang menaungi. Dengan adanya AI, universitas juga harus memberikan peraturan dan panduan yang jelas terhadap penggunaan AI di bidang akademik. Menurut UNESCO melalui kompas.com, kurang dari 10% lembaga pendidikan memiliki panduan penggunaan AI. Institusi pendidikan masih banyak yang belum memahami penggunaan AI yang dapat meminimalisir adanya pelanggaran, plagiasi, dan sesuai dengan etika akademik. Hal ini harus disikapi dengan serius oleh seluruh universitas mengingat perkembangan AI yang cepat dan penggunaannya tidak dapat dihindari.