Orang yang sama bisa gugur di satu pemeriksaan buta warna dan lolos di pemeriksaan berikutnya. Itu tidak selalu berarti salah satu pemeriksanya keliru. Tes buta warna bukan satu alat tunggal, kondisi ruangannya ikut menentukan, dan ambang lulusnya bukan ditetapkan oleh tesnya.
Dua keluarga tes, dua pertanyaan berbeda
Tes pelat pseudoisokromatik, yang paling dikenal lewat buku Ishihara, dirancang untuk menyaring buta warna merah hijau bawaan. Buku standarnya berisi 38 pelat: 25 berupa angka dan 13 berupa bentuk atau garis untuk peserta yang belum bisa membaca angka. Versi ringkas 24, 14, dan 10 pelat juga beredar, dan dalam praktik pemeriksaan bisa disederhanakan sampai 6 pelat saja.
Tes panel bekerja dengan cara lain. Pada Farnsworth Panel D-15, peserta menyusun 15 keping warna berurutan dari satu keping acuan, rata-rata selesai dalam dua menit. Hasilnya digambar sebagai garis pada diagram lingkaran. Garis yang membentuk lingkaran dibaca sebagai tidak buta warna, sedangkan garis yang menyilang ke bagian tengah lebih dari dua kali dibaca sebagai defek sedang sampai berat. Arah garisnya menunjukkan rumpun defeknya.
Perbedaan yang paling sering luput: pelat kuat pada rumpun merah hijau tetapi tidak menyentuh rumpun biru kuning, sedangkan penyusunan panel justru bisa membacanya. Sebaliknya, sensitivitas D-15 berada di bawah Ishihara, sehingga defek ringan bisa lolos di panel walau gugur di pelat. Literatur klinis membaca kombinasi itu sebagai informasi, bukan pertentangan: peserta yang gugur di pelat tetapi lolos di panel umumnya tidak menemui kesulitan warna pada pekerjaan yang tidak menuntut ketelitian warna.
Ruangan ikut menentukan hasilnya
Panduan pemeriksaan memuat syarat teknis yang jarang diketahui peserta. Buku Ishihara dipegang 66 sampai 75 cm dari mata, dan jawaban ditunggu 3 sampai 4 detik untuk tiap pelat. Pencahayaan minimal 200 lux untuk anak dan 600 lux atau lebih untuk peserta di atas 50 tahun, dengan sumber cahaya bersudut 45 derajat terhadap permukaan pelat. Lampu tungsten dan lampu kuning tidak boleh dipakai, justru karena peserta dengan defek ringan bisa lolos karenanya. Kacamata berlensa warna juga tidak boleh dikenakan selama pemeriksaan.
Ambang gugurnya sendiri berupa angka: kesalahan pada 6 pelat atau lebih sudah cukup untuk menyatakan seseorang buta warna.
Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas NLP: Neuro-Linguistic Programming.
Yang menentukan lulus adalah lembaganya
Sebagian instansi menulis ambangnya terbuka. Seleksi Penerimaan Calon Taruna Kementerian Perhubungan 2026, lewat Pengumuman PG-BPSDMP 02 Tahun 2026, menyaratkan ketajaman penglihatan normal dan tidak ada kelainan buta warna, baik parsial maupun total.
Untuk SIM, rumusan pada Perkap 9/2012 Pasal 35 ayat (2) juga eksplisit: tidak buta warna parsial dan total, di samping ketajaman penglihatan yang diuji dengan Snellen chart pada jarak sekitar 6 meter dan lapang pandang 120 sampai 180 derajat. Yang kemudian ditegaskan bukan daftar syaratnya, melainkan siapa penentunya. Kompas.com mengutip Kasubdit SIM Korlantas Polri, Kombes Djati Utomo, bahwa yang berwenang menentukan batasan buta warna adalah dokter yang telah mendapat rekomendasi sesuai Pasal 11 Perpol 5/2021 tentang Penerbitan dan Penandaan SIM.
Sebelum menyimpulkan apa pun dari selembar hasil, dua hal perlu dipastikan lebih dulu: tes mana yang dipakai, dan ambang milik siapa yang sedang berlaku.
Kalau ingin gambaran awal
Gambaran awal bisa diambil sendiri, dengan catatan yang jujur soal batasnya. Mode penyusunan keping pada tes susun warna memakai prinsip Farnsworth D-15 dan menjangkau rumpun biru kuning yang memang tidak tersentuh tes pelat. Hasilnya bergantung pada layar dan pencahayaan Anda, tidak menggantikan pemeriksaan, dan hasil yang bersih sekalipun tidak bisa dipakai untuk menyatakan bahwa penglihatan warna Anda normal. Yang memastikan tetap dokter, di ruangan dengan cahaya yang diatur.
Sumber
- Alomedika, "Teknik Pemeriksaan Buta Warna": https://www.alomedika.com/tindakan-medis/mata/pemeriksaan-buta-warna/teknik
- detikOto, "Boleh Tidak Sih Buta Warna Parsial Punya SIM?" (memuat Perkap 9/2012 Pasal 34 dan 35): https://oto.detik.com/berita/d-5070281/boleh-tidak-sih-buta-warna-parsial-punya-sim
- Kompas.com Otomotif, "Apakah Penderita Buta Warna Bisa Mendapatkan SIM?": https://otomotif.kompas.com/read/2023/10/30/111200415/apakah-penderita-buta-warna-bisa-mendapatkan-sim-
- Bisnis.com, "Sipencatar Kemenhub 2026 Resmi Dibuka, Ini Persyaratannya": https://semarang.bisnis.com/read/20260515/535/1974001/sipencatar-kemenhub-2026-resmi-dibuka-ini-persyaratannya
- Estrada dkk., "Aplikasi Tes Buta Warna Dengan Metode Ishihara dan Farnsworth Munsell D-15", Jurnal Masyarakat Informatika, Universitas Diponegoro: https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jmasif/article/view/31486