Banyak instansi yang sudah mulai merambah penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam mengembangkan perusahaan, baik di bidang bisnis hingga di bidang pendidikan. Salah satu AI yang digunakan oleh instansi-instansi tersebut adalah ChatGPT. ChatGPT atau Chat Generative Pre-trained Transformer merupakan alat atau model bahasa yang dikembangkan khusus agar berbicara layaknya manusia. ChatGPT ini akan memberikan segala informasi yang dibutuhkan oleh penggunanya dari data-data yang sudah ia dapatkan dan kumpulkan dari internet.
Lalu, bagaimana ChatGPT bisa membantu pengembangan perusahaan?
- Membantu dalam Pembuatan Konten atau Materi
ChatGPT digunakan untuk membantu perusahaan dalam pembuatan konten, seperti memberikan variasi dan ide yang sesuai dengan citra perusahaan. Bentuknya berupa judul yang menarik hingga outline konten yang nantinya akan dimuat dalam sosial media. Dalam bidang pendidikan, ChatGPT dapat membantu dalam pembuatan materi, mulai dari riset hingga penyusunan kurikulum dalam mata pelajaran.
- Pelayanan Konsumen
Adanya ChatGPT memudahkan perusahaan dalam menyediakan layanan konsumen. Kemampuan ChatGPT yang dapat menjawab layaknya manusia dapat membantu perusahaan dalam meningkatkan layanan konsumen dengan kemampuan respon yang cepat. Ia dapat menyesuaikan jawaban sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen.
- Membantu Perusahaan Secara Umum
ChatGPT dapat memberikan jasa seperti pembuatan presentasi, jasa terjemahan, hingga membantu dalam seleksi pegawai dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang diperlukan perusahaan.
Untuk memaksimalkan manfaat ChatGPT, memahami cara memberikan tanda perintah atau prompts sangat penting. Pengetahuan ini memungkinkan pengguna untuk mendapatkan informasi atau respons yang tepat sesuai kebutuhan. Bagi Anda yang ingin mendalami lebih lanjut, banyak sumber belajar yang dapat Anda akses, termasuk kursus dan pelatihan di berbagai platform edukasi.
Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas AI & Chat GPT untuk Inovasi Kerja Akademik dan Perkantoran.
Sejak artikel ini ditulis, dua pemakaian yang disebut di atas sudah punya aturan tertulis, bukan lagi sekadar etika kerja. Uni Eropa memberlakukan Regulation (EU) 2024/1689, yang lebih dikenal sebagai AI Act. Aturan ini berlaku sejak 2 Agustus 2026, dan Komisi Eropa bersama otoritas negara anggota mulai menegakkannya pada tanggal yang sama. Ini hukum Uni Eropa, bukan hukum Indonesia, jadi tidak otomatis mengikat perusahaan di sini. Tetapi kalau perusahaan Anda melayani klien, kandidat, atau pengguna di Eropa, aturan ini menyentuh Anda, dan kalaupun tidak, daftar kewajibannya adalah acuan paling rinci yang tersedia sekarang.
Pemakaian pertama, layanan konsumen. Sejak 2 Agustus 2026, aturan transparansi mewajibkan chatbot dan sistem AI interaktif lain memberi tahu penggunanya bahwa mereka sedang berhadapan dengan mesin, bukan manusia. Konten yang dihasilkan atau diubah AI juga harus bisa dikenali, termasuk lewat tanda yang terbaca mesin, dan deepfake wajib diberi label. Jadi ide "menjawab layaknya manusia" yang disebut artikel ini punya batas yang sekarang eksplisit: boleh terdengar manusiawi, tidak boleh menyamar sebagai manusia.
Pemakaian kedua, seleksi pegawai, dinilai jauh lebih berisiko. AI Act menggolongkan sistem AI untuk rekrutmen dan pengelolaan pekerja sebagai high-risk, dengan contoh yang disebut Komisi sendiri berupa perangkat lunak penyortir CV. Kewajibannya berat: penilaian dan mitigasi risiko, mutu data yang menekan hasil diskriminatif, pencatatan aktivitas agar hasilnya bisa ditelusuri, dokumentasi teknis, informasi yang memadai kepada pemakai, pengawasan manusia, serta ketahanan dan akurasi. Tanggal berlakunya sempat berubah: lewat paket penyederhanaan yang disebut AI Omnibus dan berlaku 27 Juli 2026, kewajiban untuk sistem berisiko tinggi di Annex III, termasuk bidang ketenagakerjaan, mundur ke 2 Desember 2027. Satu hal yang justru sudah dilarang sejak Februari 2025, yaitu pengenalan emosi di tempat kerja dan institusi pendidikan.
Yang bisa Anda kerjakan sekarang tidak menunggu 2027 dan tidak menunggu aturan Indonesia. Catat di mana saja AI dipakai menyentuh orang, bukan sekadar menyentuh dokumen. Untuk chatbot, nyatakan sejak sapaan pertama bahwa itu mesin, dan sediakan jalan ke manusia. Untuk seleksi pegawai, simpan alasan keputusannya, jangan hanya skornya, dan pastikan ada manusia yang benar-benar bisa membatalkan hasil, bukan sekadar menekan tombol setuju. Tiga catatan itu murah dibuat sekarang dan mahal dikarang belakangan, apa pun yurisdiksi yang akhirnya berlaku bagi Anda.
Sumber
- Komisi Eropa – AI Act, halaman kebijakan resmi, memuat tingkatan risiko, contoh rekrutmen sebagai high-risk, dan garis waktu penerapan (pemutakhiran terakhir 3 Agustus 2026)
- Komisi Eropa, siaran pers 31 Juli 2026 – Commission starts enforcing AI Act rules and new transparency requirements on 2 August, kewajiban chatbot mengaku sebagai AI dan pelabelan konten
- Komisi Eropa, 27 Juli 2026 – AI Omnibus enters into force, pemunduran kewajiban Annex III ke 2 Desember 2027 dan Annex I ke 2 Agustus 2028