Login / Daftar ID | EN
Deepfake Makin Halus, Ini Cara Mengecek Asal Videonya
Foto: Pexels
Cyber Security IT

Deepfake Makin Halus, Ini Cara Mengecek Asal Videonya

Cara paling populer mengenali video palsu adalah memeriksa wajahnya. Kedipan yang kaku, bibir yang meleset dari suara, tepi rambut yang buram, jari yang tiba-tiba bercabang. Cara itu masih berguna. Masalahnya, umurnya pendek. Tiap kali model generatif diperbarui, satu per satu ciri tadi hilang, dan daftar periksa yang kemarin ampuh jadi tumpul.

Ada pendekatan lain yang tidak bergantung pada serapi apa hasil mesinnya. Periksa riwayat berkasnya, bukan penampakannya.

Riwayat berkas, bukan wajah

C2PA menyusun standar terbuka bernama Content Credentials. Standar itu mendefinisikan provenance sebagai fakta tentang riwayat sebuah berkas: kapan dibuat, dengan alat apa, dan diubah apa saja. Informasi itu dikemas jadi C2PA Manifest lalu ditandatangani secara kriptografis.

Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas Cybersecurity & Data Protection: Kesiapan UU PDP dan Keamanan Digital di Era AI.

Satu manifest berisi tiga bagian. Sekumpulan assertion, yaitu pernyataan tentang berkasnya. Satu claim yang membungkus pernyataan itu. Lalu claim signature, tanda tangan digital memakai kunci privat penanda tangan. Sertifikatnya memakai X.509, standar yang sama dengan pengaman HTTPS dan S/MIME.

Dua hal yang tidak dijawab provenance

Di sini orang paling sering salah paham. C2PA menyatakannya sendiri: Content Credentials tidak menilai apakah isi berkasnya benar. Ia cuma memastikan riwayatnya utuh, bebas dari rusak-rusakan, dan datang dari penanda tangan yang dikenal. Foto asli bisa saja dipasangi keterangan menyesatkan, dan provenance tidak akan menangkapnya.

Pertanyaan kedua lebih menjebak. Kalau sebuah video tidak punya Content Credentials, apakah berarti palsu? Jawaban resmi C2PA cuma satu kata: mungkin. Memasang provenance sifatnya sukarela, dan standarnya sengaja menghindari ekosistem dua kelas tempat berkas tanpa kredensial otomatis dicurigai.

Hard binding dan soft binding

Tiap manifest wajib punya hard binding ke berkasnya, berupa hash kriptografis. SHA-256 yang disarankan kalau tidak ada alasan khusus memilih lain. Ubah satu piksel, hash-nya ikut berubah, kredensialnya langsung gugur. Itu sebabnya sifatnya disebut tamper-evident. Perubahan tidak dicegah, tetapi ketahuan.

Kelemahannya juga jelas. Metadata bisa dicopot, dan sekali dicopot riwayatnya lenyap. Untuk itu ada soft binding, yaitu watermark tak kasatmata atau sidik perseptual yang menempel di kontennya sendiri, dipakai untuk menemukan kembali manifest yang sudah terlepas. C2PA menegaskan soft binding tidak boleh menggantikan hard binding karena rawan tabrakan.

Ongkosnya, dan cara melihatnya

Menempelkan manifest menambah ukuran berkas. Rantai sertifikat penanda tangan dan rantai stempel waktu masing-masing sekitar 10 KB. Yang jauh lebih berat justru thumbnail, sekitar 100 KB sampai 1 MB tergantung kualitasnya.

Untuk pembaca biasa, yang perlu diingat cuma empat tingkat tampilan. Tingkat 1 menandakan kredensialnya ada dan sudah divalidasi. Tingkat 2 meringkas riwayatnya. Tingkat 3 membuka rinciannya. Tingkat 4 menyajikan seluruh data tanda tangan untuk keperluan forensik.

Tidak ada satu alat yang cukup

NIST menutup celah harapan yang terakhir. Laporan AI 100-4 menyimpulkan tidak satu pun pendekatan transparansi konten sanggup berdiri sendiri. Pelacakan provenance, watermark, dan deteksi konten sintetis harus jalan bersama, ditambah literasi digital pembacanya.

Jadi memeriksa wajah tetap berguna. Cuma jangan dijadikan satu-satunya pegangan, karena yang Anda uji di situ adalah kerapian mesinnya, bukan asal-usul berkasnya.

Kalau lebih enak melihat penjelasan ciri visualnya langsung, ada klipnya.

Sumber