Ada bagian dari pekerjaan mengajar yang jarang terlihat orang luar. Bukan saat berdiri di depan kelas, tapi malam sebelumnya: menyusun materi, memikirkan aktivitas yang pas, membuat soal, lalu menilai satu per satu pekerjaan peserta. Tumpukan ini bekerja diam-diam, dan sering memakan waktu lebih banyak daripada jam mengajar itu sendiri.
Belakangan makin banyak pengajar yang mulai melibatkan AI untuk meringankan beban itu. Bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan mempercepat bagian yang memang berulang dan menyita waktu.
Beban yang Jarang Terlihat
Seorang pengajar yang memegang beberapa kelas tidak hanya menyiapkan satu materi. Ia menyiapkan banyak versi, untuk topik dan tingkat yang berbeda. Setelah materi, ada soal yang harus adil dan benar-benar mengukur pemahaman. Ada rubrik supaya penilaian konsisten. Ada lembar kerja, dan ada feedback yang idealnya personal untuk tiap peserta. Pekerjaan administratif ini menempel pada profesi, dan biasanya dikerjakan di luar jam, setelah anak-anak tidur atau di sela waktu istirahat.
Ingin mendalaminya lebih terstruktur? Taalenta punya kelas Claude & AI Tools untuk Pengajar.
Apa yang Sudah Mulai Didelegasikan
Datanya cukup jelas soal ke mana arahnya. Survei Gallup mencatat lebih dari 60 persen guru sekolah negeri di Amerika Serikat memakai alat AI sepanjang tahun ajaran 2024 sampai 2025, dan sekitar sepertiga memakainya tiap minggu. Penggunaan yang paling sering bukan hal yang dramatis: menyusun rencana pembelajaran (sekitar 38 persen), merangkum informasi, dan membuat materi seperti soal serta tugas (sekitar 37 persen). Pola serupa pelan-pelan terlihat juga di ruang guru di Indonesia, terutama sejak alat seperti Claude, ChatGPT, Gemini, NotebookLM, dan Canva makin mudah diakses. Masing-masing punya kekuatan berbeda, dan justru di situ tantangannya: tahu kapan memakai yang mana.
Garis yang Tidak Boleh Dilewati
Di sinilah letak pembedanya. AI bagus untuk membuat draf, memberi variasi, dan menata struktur. Tapi soal yang baik tidak sekadar banyak, ia harus mengukur hal yang benar. Rubrik tidak cukup terdengar rapi, ia harus memetakan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan pengajar. Dan feedback yang berguna tetap butuh konteks yang hanya dimengerti oleh orang yang mengenal kelasnya. Kualitas keluaran AI sangat bergantung pada cara meminta: peran apa yang diberikan, untuk audiens siapa, dengan tujuan dan batasan yang seperti apa. Tanpa kerangka itu, hasilnya generik. Dengan kerangka itu, AI berubah dari mainan jadi asisten yang betul-betul membantu.
Alat, Bukan Pengganti
Yang menarik, makin banyak guru memakai AI, makin terasa bahwa penilaian manusia justru jadi semakin penting. Mesin bisa menulis sepuluh versi soal dalam hitungan detik, tapi memutuskan versi mana yang pantas masuk ke kelas tetap pekerjaan pengajar. Teknologi memberi kecepatan. Pemahaman tentang murid, tentang apa yang membuat sebuah konsep akhirnya nyangkut, itu yang tidak bisa didelegasikan ke siapa pun.
Referensi:
- Gallup – Teachers and AI: Adoption in U.S. K-12 Schools (2025) → gallup.com
- Microsoft Education – AI in Education Report (2025) → microsoft.com
- UNESCO – Survey on Institutional Guidance for AI Use (2025) → unesco.org